a (small) project

Yo, folks. Been a long time, eh? I’m droppin’ here to let you know (whoever you are, reading this post) that I might start a new writing project for the sake of this blog and my sanity.

Y’all who knew me may know that I’m a fan of Epik High, especially Tablo. His newest book, Blonote is actually released and I have bought the English version! Hip hip hooray!

As I say in my tweet that the book is full of prompt and trigger (at least for me) I decided to write my feelings out using the prompt Tablo provided in his book! I’ll choose a random page and I’ll write any kind of things I think about or related to the page, or just my usual blabber. Heh.

I will try to make this as a routine AT LEAST twice a month so please pray for me. 2017 and no more being a lazy ass!

That’s all.

Kindly wait for the first one!

Or not.

Cheers!

Advertisements

The Krucils

Ini random banget sih, tapi tetiba kepikiran (iya, otak saya bisa mikirin hal-hal ngga penting pada saat seharusnya mikirin hal yang lebih penting, revisi RPP misalnya) karena long weekend ini. Dan karena barusan nyokap abis pesan tiket kereta untuk Lebaran di Bandung. Yeah, I missed The Krucils, persepupuan gue. Being the only child, I grew up with them, spending most of my holiday with them (sampai akhirnya SMA udah punya kegiatan liburan sendiri).

Iya gue nyebut mereka The Krucils, berhubung gue yang paling tua dan dari kecil udah jadi induk semang mereka (kecuali Axel, karena paling jarang ketemu) dimana gue yang ajak main dari kecil dan ngurusin sampe besar (that’s why I never wanted younger brother or sister, I had enough babysitting SIX of them). Randomly beberapa hari lalu gue sama Alya inisiatif bikin grup LINE (biar gaul) karena somehow, kok gue ngga tau kabar mereka ya?

Persepupuan kita emang jarang ngobrol serius secara utuh, kebanyakan gue sama Alya fangirling, Dhafin Rava Farrell in their own world, dan Fira Gita Kiya Axel playing around. Paling banter yang gede-gede kumpul sendiri dan ngobrol random — tapi ngga pernah serius. Curhat-curhatan gitu, ngga pernah (padahal kalian punya gue yang kuliah di psiko loh #lahteruskenapata). Dan ngga tau ya, tetiba gue memiliki keinginan untuk mengikat (?) mereka semua.

Kangen masa-masa dimana ngumpul dan ketemu temen itu belum seberapa penting (karena temen-temen lo juga kumpul sama keluarganya) dan gue bisa menghabiskan dua minggu liburan hanya ngendep di Cimahi (mostly) atau Antapani dan doing nothing, entah males-malesan di kasur sambil baca komik, nonton film di komputer (yang mana koleksi kami belum sebanyak sekarang, inget beli dvd bajakan Narnia yang tone videonya hijau, pas nonton di TV kok beda ya warnanya), somehow ngegosipin sesuatu dan ketawa karena humor receh sendiri, ngebolang naik angkot ke Zoe demi baca komik seharian (oh yes, we are nerds by heart), ngeberantakin dapur jam dua pagi demi mencobakan resep-resep aneh dan baru tidur jam empat pagi (genetically kalong, yes) — setiap hari sampai bosan. Dan ya, gue bahagia.

But time flies and now look at us! Yang terdekat sama gue (geng anak besar) sudah tersebar kuliah dimana-mana (gue dan Alya di UI, Rava di Unpad, Dhafin di Polban, Farrell baru aja lulus SMA dan lagi dalam masa pencarian), yang bocah sudah beranjak remaja (Fira dan Kiya sudah SMP, what?) dan tersisa Gita dan Axel di SD. Saat dimana udah mulai sibuk sama teman masing-masing, dan lebih milih ketemu teman tentunya.

Saat dimana gue sadar tentang growing-up.

Wow, my cousins are growing-up, too.

Damn.

Intinya adalah, gue lagi kangen kumpul bareng mereka, kangen kumpul sama keluarga Taruno (I never thought I’d say this), because if you know me personally you’d know I’m so fed up with college life these days — and I need a safe haven. Somehow I know, it’s family.

Ingin cepat libur Lebaran dan bertemu mereka semua, full-team, bersembilan, di Bandung atau Cirebon, seperti biasa. Semoga dapat kesempatan untuk kumpul bareng, rumpi bareng, having quality time together.

At times like this I realize; wow, I do love my pecicilan cousins.

maybe,

maybe, it’s all because of love.

when tauriel betrayed her kin and go straight for kili. when legolas followed tauriel wherever she goes, protecting her at all risk — even if that means he’s no longer a prince. when thorin march to ravenhill wanting to kill azog, protecting his bloodlines and people. when thranduil decided to fall back to lothlorien, leaving the dwarves behind once again, because he wants to protect his kin. when bard taking the chances, become the leader of the city after smaug destroyed it, all for protecting his kids. when bilbo running here and there — although all the things that happened isn’t his fault at all — just because he grow fonder of the company; the dwarves, elves, wizards, men, hobbits, pretty much everything in middle-earth.

i wonder how does it feel; truly loving someone (or something).

 

 

just a silly insight i got after rewatching the hobbit: the battle of five armies. fyi: i’m kinda obsessed with the middle-earth universe nowadays. #teamtolkien

ingat;

draft tulisan satu bulan lalu;

persepsi

dari jurnal rpp tentang self-perception
sampai mik tentang daya sosial
yang dilihat adalah persepsi orang lain

apa yang kita lihat belum tentu yang orang lain lihat
dan ketika kedua hal tersebut berbeda, ada hal yang patut dipertanyakan

mengakhiri minggu dengan penuh insight.

cerita mas bobby:
banyak orang baik di dunia
jangan hanya lihat jahatnya saja
banyak yang mau berjuang
jadilah salah satunya.

Persimpangan. Akhir atau
awal. Saat dimana meragukan diri terasa
nikmat namun berat. Saat menimbang-nimbang
keputusan, saat tidak tahu apa yang benar dan
apa yang salah. Abu-abu. Saat dimana tahu bahwa
ini adalah kesempatan terakhir, mau tak mau, maka
tantang dirimu. Tapi, tapi, tapi. Banyak sekali tetapi.

Tapi yang penting, apakah niat untuk berjalan sudah benar adanya,
atau banyak kisikan-kisikan yang pada akhirnya akan tinggalkanmu jua?

21

One,
two,
three.

You can count it with your fingers.

Somehow it’s amazing how people could remember little things about you,
and wishing you all the wishes
that may be come true.

It’s different every year, and this year it’s
quiet.
A mixture of loneliness and somehow – peace.
I’m alone but I feel the love,
through the words they sent
it’s not much, not at all
but what made me happy is the
genuineness.

Yeah, I laugh like crazy
and wishing y’all are here with me
but at the same time I feel relieved
that God give me some time to be alone and think.

Saying goodbye to the adolescence year,
yes – you are an adult now,
yet I feel like a child.

#nts3

Insight hari ini:

Cerita-cerita Bunda Romi di kelas hari ini. Memiliki uang tidak menjamin kehidupan anak, bahkan anakmu sendiri — akan bahagia. Masih tidak habis pikir dengan para orangtua yang ‘menelantarkan’ anaknya.

“Itu anakmu sendiri, lho. Itu anak dulu siapa yang bikin?”

Bukan tipikal seorang yang mengajar. Bukan tipikal seorang guru. Tepatnya, tidak cukup percaya diri untuk menjadi seseorang dengan titel ‘guru’.

“Tapi bukankah semua hal di alam semesta ini adalah guru kehidupan?”

Satu hal yang gue sadari, satu kesamaan kami dalam tim ini, baik terlihat sehari-hari ataupun tidak, baik yang paras maupun perilakunya memang seperti malaikat atau iblis,

kami semua menyukai anak-anak.

Kami menyayangi mereka, baik anak-anak tetangga sampai anak-anak nun jauh di Tegal sana. Sampai anak-anak di luar negeri yang bahkan kami belum pernah lihat wajahnya. Kami menyukai anak-anak, sesederhana itu.

Sampai pada titik dimana kami berkumpul dan mencurahkan tenaga dan waktu agar setidaknya, beberapa ratus anak dari sekian banyak anak-anak di dunia ini bisa merasakan bahagia.

Yang akhirnya, kembali meneguhkan niat. Semua, untuk pendidikan di negara tercinta.

Dan ah, ya. Klise. Jangan menilai orang sebelum kamu tahu ‘cerita’ yang ia punya.

#nts2

Insight hari ini dari kelas Psikologi Keluarga:

“Jangan selalu analisis atau memandang diri kamu dengan teori psikologi yang mengacu pada masa lalu. Psikologi itu awalnya berpandangan negatif, teori awalnya negatif, kamu akan selalu salah. Apa yang kamu lakukan di masa lalu akan selalu mempengaruhi masa depan. Kesalahan pengasuhan di masa kecil akan pengaruh ke perkembangan diri kamu. Ya, itu benar. Tapi, berhentilah menyalahkan masa lalu. Berhenti menyalahkan orang tua kamu.

Dekade ini, Positive Psychology mulai berkembang. Gunakan itu sebagai perspektif baru. Bahwa manusia punya potensi untuk berkembang. Bahwa manusia, seperti apapun dia, punya kemampuan untuk memperbaiki dirinya. Memperbaiki kualitas hidupnya. Hope, resilience, optimism; semua untuk menjadi manusia dengan kehidupan yang lebih baik.”

Terima kasih bu Wina untuk selipan pembahasan di tengah kuliah pertama hari ini. Tamparan tersendiri untuk saya yang akhir-akhir ini terlalu negatif pemikirannya.