#2

I don’t want you dancing by yourself
And I don’t want you picturing yourself with someone else
I know I made some promises and honestly I wanted this to work out
I didn’t know the shiny star I found was about to burn out
So what now, we go around like a record
I’m feeling disconnected and you’re feeling disrespected
I don’t know how this gonna wrap up but ’til I’m home you should turn that track up.

— G-Dragon’s part in Dancing on My Own

Advertisements

Death Drive

Salah satu hal yang tercetus dari seharian di taman ria (baca: Dufan) kemarin– Thanatos (Death Drive) dari perkataan om Freud. Dorongan untuk mati, (kasarnya). Tidak akan menjelaskan konsepnya (karena sudah malam, malas menjelaskan, dan mau melanjutkan agenda lain– mungkin akan di edit nanti), hehe. Intinya,

kemarin melihat banyak sekali dorongan untuk mati, di sekitar. Sensasi yang dirasakan saat diputar, dihentak, dibolak-balik baik di darat, di udara, ataupun di antaranya– sensasi ‘mencicipi maut’. Karena walaupun memakai pengaman, sebenarnya yang diincar adalah rasa menang atas hal yang sebenarnya bisa membuat mati, tewas, meninggal? Pemikiran pribadi sih.

Lalu pikiran melantur sampai kepada rasa menang atas kematian. Oke skip.

Tapi, gue sendiri bukan (dan sepertinya tidak akan pernah jadi) adrenaline junkie, tidak pernah suka wahana-wahana seperti itu. Kemarin mencoba Alap-Alap yang kata semua orang tidak menakutkan, dan memang tidak sebegitu menakutkan (sebenarnya), tapi saat keretanya melaju kebawah, dihentak kiri dan kanan, it doesn’t feel good. Not a good sensation.

Lalu jadi berpikir, apa gue sebegitu menyukai hidup (Erosnya kuat sekali menekan Thanatosnya) sehingga gue tidak tertarik untuk mencicipi mati? Hm. Atau ya, sesederhana gue mengalihkan Death Drive gue ke hal-hal lain yang sebenarnya juga mendekati kematian, selain wahana-wahana yang berputar di langit itu?

Sepertinya sih, yang kedua.

P.S.: Murni pemahaman gue tentang Eros dan Thanatos, belum baca-baca lagi.

P.S.S: Good article, explaining Thanatos