Death Drive

Salah satu hal yang tercetus dari seharian di taman ria (baca: Dufan) kemarin– Thanatos (Death Drive) dari perkataan om Freud. Dorongan untuk mati, (kasarnya). Tidak akan menjelaskan konsepnya (karena sudah malam, malas menjelaskan, dan mau melanjutkan agenda lain– mungkin akan di edit nanti), hehe. Intinya,

kemarin melihat banyak sekali dorongan untuk mati, di sekitar. Sensasi yang dirasakan saat diputar, dihentak, dibolak-balik baik di darat, di udara, ataupun di antaranya– sensasi ‘mencicipi maut’. Karena walaupun memakai pengaman, sebenarnya yang diincar adalah rasa menang atas hal yang sebenarnya bisa membuat mati, tewas, meninggal? Pemikiran pribadi sih.

Lalu pikiran melantur sampai kepada rasa menang atas kematian. Oke skip.

Tapi, gue sendiri bukan (dan sepertinya tidak akan pernah jadi) adrenaline junkie, tidak pernah suka wahana-wahana seperti itu. Kemarin mencoba Alap-Alap yang kata semua orang tidak menakutkan, dan memang tidak sebegitu menakutkan (sebenarnya), tapi saat keretanya melaju kebawah, dihentak kiri dan kanan, it doesn’t feel good. Not a good sensation.

Lalu jadi berpikir, apa gue sebegitu menyukai hidup (Erosnya kuat sekali menekan Thanatosnya) sehingga gue tidak tertarik untuk mencicipi mati? Hm. Atau ya, sesederhana gue mengalihkan Death Drive gue ke hal-hal lain yang sebenarnya juga mendekati kematian, selain wahana-wahana yang berputar di langit itu?

Sepertinya sih, yang kedua.

P.S.: Murni pemahaman gue tentang Eros dan Thanatos, belum baca-baca lagi.

P.S.S: Good article, explaining Thanatos

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s